“Ah! Tidaaak!”

Sebuah jeritan pecah menembus keheningan malam.

“Lepaskan aku! Kumohon…” Suara perempuan itu terdengar lirih, nyaris putus asa. Wajahnya penuh ketakutan, memohon belas kasihan.

“Melepaskanmu?” Suara pria itu membentak tajam, penuh amarah dan nada sinis.

“Kau tahu kantor itu hanya diisi wanita seorang diri. Tapi kau justru menggoda dan bertingkah seolah menantang—apa kau pikir para pria tak akan tergoda?”

“Maaf… maafkan aku… Aku tak berniat seperti itu… Aku janji tidak akan mengulanginya…” isaknya, air mata jatuh tak terbendung.

“Sudah terlambat!” bentaknya lagi. “Malam ini, kau harus melayani semua pria yang ada di sini.”

“Tidak… kumohon… aku akan lakukan apa saja… asal lepaskan aku…” suara itu bergetar, seperti sisa harapan terakhir.

“Melepaskanmu? Agar kau bisa lari dan melapor?” Tawa pria itu terdengar dingin dan mengejek.

“Tidak… tidak… aku bersumpah… aku takkan pergi ke mana-mana… kumohon, percayalah padaku…”

“Sumpah?” Pria itu menyeringai miring. “Kau pikir aku masih percaya dengan sumpah palsu seperti itu? Sudah terlalu banyak wanita yang menipuku dengan janji manis dan air mata.”

Ia tertawa—tawa getir yang mengandung luka lama. Sekilas, sorot matanya meredup, dihantui bayangan seseorang dari masa lalu. Seseorang yang pernah ia percayai… yang bersumpah di atas kitab suci, lalu meninggalkannya tanpa jejak.

“Apa yang harus kulakukan… agar kau mau percaya padaku?” tanya wanita itu pelan, suaranya nyaris tercekat.

Pria itu mencondongkan tubuh, suaranya berubah menjadi bisikan dingin. “Aku tidak mau ambil risiko. Kalau kau kabur atau melapor, aku yang rugi. Jadi... aku butuh jaminan.”

“Baik… baik, aku akan lakukan apa pun yang kau minta, asal jangan serahkan aku pada mereka… dan biarkan aku pergi…” jawab wanita itu cepat, seolah menggenggam sisa harapan terakhirnya.

"Hmmm..." Pria tersebut memandang tajam ke arah wanita tersebut.

"Buka bajumu!" Perintahnya.

"A...apa?" Tanya si wanita dengan jantung berdegup kencang berharap salah mendengar.

"Apa kamu tidak mendengarkan perintahku? Buka bajumu. CEPAT!" Bentak pria tersebut dengan tidak sabar.

"Bukankah kamu minta jaminan agar bisa melepaskanku. Apa yang kamu inginkan?" Tanya wanita itu dengan gemetar. 

"Sudah ku bilang, aku perlu jaminan. Kamu harus lakukan yang kusuruh agar aku bisa mempercayaimu!" Kata pria tersebut.

Dengan ragu-ragu, wanita tersebut melepas baju kaos yang dikenakannya hingga hanya tersisa BH menutupi kedua payudaranya yang besar.

Dengan kedua tangannya, dia berusaha menutupi tubuhnya dari pandangan pria tersebut.

Pria tersebut mendekati wanita tersebut yang masih berusaha menutupi tubuhnya dengan tubuh gemetar ketakutan dan malu. Mata wanita tersebut tidak berani memandang wajah pria didepannya dan menunduk.

Pria tersebut memutari wanita tersebut dengan tatapan mata memandangi seluruh bagian tubuh wanita tersebut. 

"Cukup seksi." Bisiknya pelan.

Setelah puas memandangi, pria tersebut mengangkat dagu wanita tersebut dan memaksanya memandangi dirinya 

Tiba-tiba tubuh wanita tersebut bergetar hebat. Tanpa diduga, pria tersebut mengecup bibirnya dengan lama. Lalu bibir pria tersebut mulai bergerak-gerak melumat bibir si wanita. Sementara tangannya si pria memeluk wanita tersebut agar mendekat.

"Hmph... Hmph..." Suara wanita tersebut yang kesulitan bernapas karena ganasnya ciuman si pria.

Pria tersebut semakin ganas menciumi bibirnya, sehingga wanita tersebut gelagapan dibuatnya. 

Mendadak tubuh wanita tersebut menjadi dingin. Tanpa dia sadari, salah satu jari tangan pria tersebut sudah menusuk lubang vaginanya tanpa dia ketahui kapan tangan tersebut masuk kedalam celana jeans-nya yang ketat.

Segera wanita tersebut berontak berusaha melepaskan, namun pelukan pria tersebut sangat kuat. Semakin dia berontak, jari pria tersebut terasa semakin masuk kedalam vaginanya. Dia merasa vaginanya tertarik sehingga dia merasa sangat kesakitan jika berontak.

"Lepaskan aku... Kumohon..." Ratao wanita tersebut.

Namun bukannya melepaskan, pria tersebut berbisik, "Tanganku terjepit celanamu. Longgarkan sedikit agar aku bisa menarik tanganku "

Dengan cepat wanita tersebut melepaskan kaitan celananya dengan harapan pria tersebut segera melepaskan tangannya. Namun pria tersebut justru menarik lepas celana jeans berikut celana dalamnya di pelorotkan kebawah.

"Jangan!" Teriaknya. 

Namun pria tersebut tidak peduli. Dia dengan cepat menarik paksa celana wanita tersebut hingga kehilangan keseimbangan dan wanita tersebut terjatuh terduduk akibat celana ditarik.

Sambil tetap mempertahankan celananya, wanita tersebut tetap berusaha menahan agar tidak berhasil dilepaskan.

Merasa kesal dengan wanita tersebut, dengan cepat pria tersebut menarik kaki si wanita kearah atas dan memaksa celana jeans yang masih di kakinya dimasukkan melewati kepala, sehingga kini posisi wanita tersebut mengangkang dengan vagina terbuka lebar. Sementara wanita itu sendiri sedang berusaha melepaskan celana yang membuat kakinya tersangkut di leher. Sebuah posisi yang sangat menyakitkan baginya, namun sangat menggairahkan bagi pria tersebut 

"Lynx, ku mohon lepaskan aku." Pinta wanita itu.

"Melepaskanmu? Melepaskan kesempatan menikmati tubuhmu? Apa kamu pikir aku bodoh. Aku akan menikmati tubuhmu dan membuatmu merasakan hangatnya spermaku didalam rahimmu."

Mendengar kata-kata itu, wanita tersebut semakin ketakutan. Dia tidak ingin hamil. "Kumohon, aku akan lakukan apapun asal kamu melepaskanku."

Lynx mengabaikannya. Dia mengambil tali dan mengikat tangan, kaki wanita tersebut agar semakin tidak bisa bergerak. Wanita tersebut menangis ketakutan.

Lynx mengambil lilin dan menyalakannya, lalu dia meneteskannya ke paha wanita tersebut. 

"Ahhhhh.... Sssaakkkkiiittt...." Teriaknya.

Belum puas, Lynx meneteskan cairan lilin tepat ke klitorisnya sehingga wanita tersebut berontak kesakitan